Selamat Datang Di Website Oi Kota Bekasi
http://oi-kotabekasi.blogspot.com/p/oi-kota-bekasi-peduli.html

Sabtu, 16 Februari 2013

Shohibul Hikayat , Budaya Betawi yang Mulai Hilang

Seiring dengan perkembangan zaman yang kian modern, berbagai kebudayaan tradisional di tanah Betawi ini, nampaknya mulai tersisihkan oleh budaya asing. Akibatnya, budaya warisan para leluhur yang harusnya dilestarikan, kini terancam punah. Salah satunya adalah kesenian shohibul hikayat. Jika pada era tahun 1970-an seni ini masih kental di masyarakat, namun kini nyaris tak terdengar lagi.





Kesenian Shohibul Hikayat merupakan kesenian Betawi yang mulai langka dijumpai. Padahal tiga puluh tahun lalu, orang rela berbondong-bondong menyaksikan kesenian ini, tapi kejayaan Shohibul Hikayat berangsur mulai ditinggalkan. Tak ada lagi sekerumunan orang bersorak menyaksikan ucapan kocak sang Shohibul Hikayat.

Selayaknya kesenian Betawi lain, kesenian Shohibul Hikayat syarat akan petuah atau ajaran kebajikan. Tahun 1970, kesenian Shohibul Hikayat merupakan kesenian yang digemari di kalangan masyarakat Betawi. Semalam sebelum `Mangkat` atau prosesi acara adat Betawi dilangsungkan, empunya hajat selalu menampilkan kesenian Shohibul Hikayah.

Ustad Mifta Saputra, salah satu tokoh masyarakat Betawi asal  Tanahkusir, Jakarta Selatan mengatakan, sesuai namanya, Shohibul berasal dari kata shohib yang artinya teman, sedangkan Hikayat berarti cerita. Sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai  teman yang bercerita. Teman dalam Shohibul Hikayat diartikan lakon yang mampu membawa cerita mulai dari awal hingga akhir.

Shohibul Hikayat dimainkan dengan satu lakon yang mampu membawakan berbagai macam karakter. Seorang lakon Shohibul Hidayah dituntut memiliki wawasan luas baik dalam segi agama maupun pengetahuan umum. Mengenai judul atau tema Shohibul Hikayat, biasanya sang lakon membawakan tema sesuai acara yang akan diperingati.

Seperti yang ditampilkan pada sebuah acara ulang tahun Ny. H. Imran (38), satu warga Tanahkusir, Jakarta Selatan, Sabtu (30/1) malam. Dalam ceritanya, sebagai pembawa cerita, Ustad Mifta mengangkat soal kisah Siti Zulfah sebagai seorang istri teladan. Dalam kesempatan tersebut,  Ustad Mifta  mengajak para suami untuk menghargai seorang istri dan mampu menjadi imam serta tauladan bagi seluruh keluarganya.

Mifta mampu menceritakan secara runtut  mulai dari awal hingga akhir dengan baik. Mimik mukanya berubah-ubah. Begitu juga dengan suara yang kadang parau, kadang pula nyaring. Joke-joke segar keluar dari mulutnya, bahkan tak jarang ucapannya menyela para penonton yang hadir. Sikapnya ini, tentu saja membuat penonton tertawa geli.

Nyablak, mungkin ini kesan pertama saat menyaksikan kesenian ini. Lakon Shohibul Hikayat bercerita dengan alur yang terkesan asal kocak serta intonasi yang berubah-ubah, kadang tinggi-kadang rendah sesuai karakter yang diperankan. Namun, isi cerita yang dibawakan mengandung makna religi dan membawa unsur bijak.

Sekadar diketahui, lakon Shohibul Hikayat yang pernah menjadi primadona masyarakat Betawi adalah H Sofyan Jahid, yang dikenal di kawasan Kebayoran Lama pada era 1973-an. "H Jaid merupakan lakon Shohibul Hikayat yang terkenal. Beliau dapat membawakan alur cerita dan menguasai karakter orang yang dimainkannya pun cukup baik," kata H Yusron, tokoh Betawi asal Kebayoran Lama.

Yusron sendiri mengaku, Shohibul Hikayat seperti layaknya dalang yang bercerita mengenai kisah yang dibawakannya. Hanya bedanya, Shohibul Hikayat tidak menggunakan alat peraga seperti layaknya wayang karena hanya dimainkan dengan satu lakon tanpa pengiring lagu atau nada.

“Shohibul Hikayat merupakan kesenian yang dimainkan semalam sebelum prosesi acara dilakukan. Pada umumnya kesenian ini dimainkan saat menjelang pernikahan dan sunatan, dengan tujuan memberikan petuah kepada calon mempelai ataupun yang disunat agar hidup lebih baik,” kata Yusron.